Untaian daun menghijau tertutup lembutnya embun pagi itu, jatuh menetes sembunyi diatara rimbunnya pohon, menyusuri tanah, bersama hilangnya kabut pagi disapu mentari yang bangun dibalik bukit … Walau tidak seindah dulu dikala rimba belantara masih ada, Suara-suara instrumen alam yang berkumandang meramaikan suasana pagi dibumi pertiwi.
Nun diudik sana dipenjuru kampung disisi hutan itu, terlihat kepulan-pekulan asap putih dari rumah betang besar itu bergerak perlahan diantar angin menyapa langit yang menjulang tinggi. Terdengar alunan musik dangdut dari sebuah radio tua dibilik seorang penghuni rumah itu menggema memecahkan dinginnya pagi. Membangunkan anak negri yang lelap dalam mimpi setelah kemarin berpacu dengan waktu menjajal tanah untuk meraih sesuap asa… diantara puncak-puncak bukit dan diantara lembah-lembah hijau itu.
Dipinggir sungai itu sudah tampak beberapa anak negri yang mengayuh sampan kecil nan lincah, menyeberangi derasnya arus sungai berbatuan yang keruh. Tanpa menghiraukan mentari yang terus membidik kulit menuju sore.
Ya… mereka beraktivitas masih seperti hari-hari kemarin mengikuti irama hari dan dinamika dunia anak negri. Mengikuti titah generasi sebelumnya bersama alam berjuang membangun kehidupan, menjaga alam dan menjaga budaya leluhurnya. Mereka hilang diantara pohon-pohon hutan kebun itu untuk bergumul bersama waktu sambil bekerja menoreh getah, petani ladang, petani sawah dan masuk kehutan untuk mendapatkan sisa-sisa hasil hutan dari pembalakan hutan oleh pemilik modal .
Sementara disisi lain disana tampak segerombolan anak berseragam SD beriringan dengan bertelanjang kaki menyusuri jalan setapak menuju sekolah dikampung sebelah. Orang-orang tua dirumah Betang besar itu sambil menatap kosong menanti senjanya hari mereka, menggendong cucu kecil mereka yang menangis ditinggalkan bapak dan ibunya yang bekerja menjajal tanah meraih asa. Mereka berjalan meninggalkan rumah meniti pagi mengejar sore, berjuang untuk kehidupan tanpa menyadari bahwa paradigma dan dinamika dunia luar mengundang mereka.
Hidangan keseharian orang-orang dikampung seperti ini tidaklah mengherankan bagi Madong si anak negri, sebab ia tumbuh dan besar bersama mereka. Madong adalah seorang pemuda dengan kesederhanaan dan memiliki wawasan yang cukup. Sosoknya sangat pandai bergumul dengan semua orang baik terhadap sesamanya maupun orang-orang yang lebih tua. Ia paham dengan adat istiadat dan kearifan lokal leluhurnya. Ia juga banyak mendapat cerita dari para orang-orang tua tentang bagaimana menjaga dan melestarikan adat dan budaya kaumnya dimasa yang akan datang. Apa yang menjadi nafas budaya bangsa sehingga mesti dijaga dan tetap eksis disegala jaman.
Dengan kesempatan yang diberikan kedua orangtuanya, Madong dapat menyelesaikan pendidikan formalnya sampai pada perguruan tinggi. Dengan biaya terbatas Madong ingin terus belajar soal dirinya dan belajar mengenai hiruk pikuk dunia luar sana. Setelah selesai sekolah ia memilih kembali kekampung halamannya dengan harapan dapat membangun kampungnya. Pilihannya itu tentu beralasan karena ia melihat ketidakberdayaan dan ketetertinggalan orang-orang dikampungnya.
Cerita soal kedekatan leluhurnya terdahulu dengan alam membuat Madong mencintai negri dimana saat ini ia berpijak. Penghargaan besar telah diterima oleh kaumnya karena alam memberikan kemakmuran bagi anak negri ini. Rasa syukur atas usaha itu mereka rayakan setiap tahunnya dengan ritual adat gawai.
Mereka memberikan persembahan kepada sang pencipta dan kepada orang yang berkenan kepada-Nya. Hasil panen yang berlimpah membawa kesejahteraan kepada segenap orang. Tumpah tuah hidangan gawai melarutkan mereka dalam sukacita sesaat itu. Dan setelah itu mereka kembali seperti semula melanjutkan titah leluhur melanjutkan kerja membangun asa menyonsong hari-hari berlalu.
Tapi diluar sana dunia jelas berbeda, kemudahan dan pengetahuan yang berkembang juga membuat perbedaan dijagad raya ini. Di kota besar itu orang begitu ramai turun naik kendaraan menjajal hari. Menikmati kemewahan semua serba cepat dan instant. Keadan ini bertolak belakang dengan keadaan di kampungnya Madong di Anak Negeri. Butuh beberapa hari baru sampai dikampung karena belum ada jalan beraspal. Selain itu anak-anak sekolah dikota sangat berbeda dengan anak-naka sekolah dikampung mereka mendapatkan fasilitas dan guru yang cukup.tidak seperti dikampungnya ia sendiri yang menjadi guru honor karena tidak ada guru diskolah tersebut. Anak-anak SD di Kota udah bisa membaca dengan baik.
Bersambung………………………………………………………………………..
Kesatuan Kekuatan Tak terbantah... Aku ada karena KESATUAN... Belajar adalah Proses Keseimbangan Untuk Kehidupan Mencapai Kesatuan....
Senin, 15 Desember 2008
Rabu, 10 Desember 2008
Krisis Sesungguhnya Mengintai Anak Negri
Akhir tahun 2008 ini kondisi masyarakat petani diperdesaan direpotkan dengan turunnya harga hasil perkebunan seperti harga buah sawit, karet, cengkeh, coklat dan tanaman lainnya. Situasi ini bagi petani sawit dan karet sangat terasa sekali sebab harga kedua komoditi ini per kilonya begitu anjlok sehingga hampir mendekati 80 % dari harga sebelumnya.
Jika dari awal petani dikampung mengembangkan usaha yang bervariasi maka dampak krisis tidaklah terasa. Usaha pertanian yang dapat dikembangklan adalah usaha yang dapat menambah penghasilan keluarga maupun untuk menjaga ketahanan pangan keluarga sendiri (dikonsumsi sendiri).
Banyak alternative tanaman komoditi yang dapat dikembangkan namun kebiasaan orang dikampung tidak mau menanam tanaman lain selain karet atau hanya mengandalkan kaplingan sawit saja. Dengan luas lahan yang miliki saat ini sebenarnya mereka dapat menanam Coklat, lada, dan lain-lain serta tanaman untuk konsumsi lokal yang lebih cepat laku dipasar domestic.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan usaha bersama dalam suatu desa dapat digalakan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Dengan menghimpun modal secara bersama maka masyarakat petani akan mandiri dan berdaya sendiri.
Penurunan harga yang sangat dratis pada komoditi eksport diatas, tentu tidak terlepas dari pengaruh kondisi perekonomian Amerika yang berimbas pada ekonomi global. Rendahnya tingkat pendapatan petani membuah daya beli mereka juga berkurang. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak berimbang dengan penghasilan yang didapat setiap harinya. Belum lagi factor alam dan cuaca yang tidak memungkinkan petani mengembangkan usaha lain.
Situasi krisis ini bagi setiap orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya. Bahkan ada yang mendapat berkah dari krisis karena ia bisa melihat peluang. Ada pula yang jatuh karena tidak ada alternative lain. Dan kebanyakan adalah mengeluh dan larut dalam krisis itu sendiri.
Jika dilihat krisis global saat ini bukanlah krisis yang sesungguhnya yang dialami para petani, terutama anak negeri ini. Mengapa…. Karena krisis yang sesungguhnya kedepan adalah hilangnya hak-hak anak negeri ini atas segala asset yang dititipkan nenek moyangnya. Krisis pangan, krisis air, krisis energi akan menjadi puncaknya dan perlahan dan pasti melanda seluruh negeri.
Begitu banyak orang dinegri ini menjual tanahnya tanpa mau mengusahakan sendiri. Mereka telah menjual semua tanah miliknya kepada perusahaan tambang, perkebunan sawit, mereka telah menukarnya dengan motor-motor kenyamanan sesaat. Mereka tidak perlu memikirkan generasi anak cucunya yang hanya mendengar kisah masa jaya kaumnya. Dimana tongkat kayu dan batu menjadi tanaman seperti dalam bait sebuah lagu tempoe doeloe.
Mengapa demikian karena kedepan persoalan pangan akan menjadi persoalan dasar manusia ianya semakin mahal, karena banyak areal pertanian disulap menjadi beton megah. Tanah sebagai asset yang sangat berharga tidak lagi dimiliki oleh anak negeri ini. Mereka telah menjualnya kepada pemilik modal hanya untuk menikmati kehidupan saat ini, menjadi budak dirinya sendiri.
Persoalan air bersih akan lebih mahal dari harga BBM, ianya sulit didapat karena hutan dan bukit penyangga air habis dibabat, kalaupun ada sudah dikuasai oleh pemilik modal. Air sungai akan mengering jika musim kemarau, banjir dimusim hujan dan sungai telah tercemar oleh limbah-limbah perkebunandan tambang yang membuang pupuk serta bahan kimia beracun didalamnya.
Sekarang kepada siapa kita berharap ? Adalah sebuah pertanyaan refleksi bagi kita semua apa yang telah kita buat saat ini ? bagaimana agar krisis sesungguhnya tidak melanda anak negeri ini ?.
Jika dari awal petani dikampung mengembangkan usaha yang bervariasi maka dampak krisis tidaklah terasa. Usaha pertanian yang dapat dikembangklan adalah usaha yang dapat menambah penghasilan keluarga maupun untuk menjaga ketahanan pangan keluarga sendiri (dikonsumsi sendiri).
Banyak alternative tanaman komoditi yang dapat dikembangkan namun kebiasaan orang dikampung tidak mau menanam tanaman lain selain karet atau hanya mengandalkan kaplingan sawit saja. Dengan luas lahan yang miliki saat ini sebenarnya mereka dapat menanam Coklat, lada, dan lain-lain serta tanaman untuk konsumsi lokal yang lebih cepat laku dipasar domestic.
Untuk menjaga kelestarian lingkungan usaha bersama dalam suatu desa dapat digalakan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Dengan menghimpun modal secara bersama maka masyarakat petani akan mandiri dan berdaya sendiri.
Penurunan harga yang sangat dratis pada komoditi eksport diatas, tentu tidak terlepas dari pengaruh kondisi perekonomian Amerika yang berimbas pada ekonomi global. Rendahnya tingkat pendapatan petani membuah daya beli mereka juga berkurang. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak berimbang dengan penghasilan yang didapat setiap harinya. Belum lagi factor alam dan cuaca yang tidak memungkinkan petani mengembangkan usaha lain.
Situasi krisis ini bagi setiap orang memiliki cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya. Bahkan ada yang mendapat berkah dari krisis karena ia bisa melihat peluang. Ada pula yang jatuh karena tidak ada alternative lain. Dan kebanyakan adalah mengeluh dan larut dalam krisis itu sendiri.
Jika dilihat krisis global saat ini bukanlah krisis yang sesungguhnya yang dialami para petani, terutama anak negeri ini. Mengapa…. Karena krisis yang sesungguhnya kedepan adalah hilangnya hak-hak anak negeri ini atas segala asset yang dititipkan nenek moyangnya. Krisis pangan, krisis air, krisis energi akan menjadi puncaknya dan perlahan dan pasti melanda seluruh negeri.
Begitu banyak orang dinegri ini menjual tanahnya tanpa mau mengusahakan sendiri. Mereka telah menjual semua tanah miliknya kepada perusahaan tambang, perkebunan sawit, mereka telah menukarnya dengan motor-motor kenyamanan sesaat. Mereka tidak perlu memikirkan generasi anak cucunya yang hanya mendengar kisah masa jaya kaumnya. Dimana tongkat kayu dan batu menjadi tanaman seperti dalam bait sebuah lagu tempoe doeloe.
Mengapa demikian karena kedepan persoalan pangan akan menjadi persoalan dasar manusia ianya semakin mahal, karena banyak areal pertanian disulap menjadi beton megah. Tanah sebagai asset yang sangat berharga tidak lagi dimiliki oleh anak negeri ini. Mereka telah menjualnya kepada pemilik modal hanya untuk menikmati kehidupan saat ini, menjadi budak dirinya sendiri.
Persoalan air bersih akan lebih mahal dari harga BBM, ianya sulit didapat karena hutan dan bukit penyangga air habis dibabat, kalaupun ada sudah dikuasai oleh pemilik modal. Air sungai akan mengering jika musim kemarau, banjir dimusim hujan dan sungai telah tercemar oleh limbah-limbah perkebunandan tambang yang membuang pupuk serta bahan kimia beracun didalamnya.
Sekarang kepada siapa kita berharap ? Adalah sebuah pertanyaan refleksi bagi kita semua apa yang telah kita buat saat ini ? bagaimana agar krisis sesungguhnya tidak melanda anak negeri ini ?.
Selasa, 08 Juli 2008
Mengenal Singkat Korban Traficking

Trafficking adalah istilah baru untuk praktek perdagangan manusia maupun yang berhubungan dengan kegiatannya. Trafficking sendiri memang sudah berlangsung sejak jaman baholak. Namun sekarang semakin mencuat kedepan karena begitu banyak anak negeri ini maupun dinegara-negara lainnya yang menjadi korban. Kasus trafficking banyak dialami oleh Negara miskin dan berkembang. Warga Negara ini melakukan migrasi ke Negara yang cukup baik kondisi ekonominya dan bekerja disana sebagai buruh maupun pembantu rumah tangga bagi kaum perempuan. Kegiatan traficking jelas bertentangan dengan hak asasi manusia dan gender.
Untuk Indonesia kasus perdagangan manusia sudah berlangsung lama terutama yang bekerja di Malaysia maupun di Timur Tengah. Kasus ini terjadi karena kebutuhan dan tidak ada pengetahuan yang cukup dari calon pencari kerja sehingga mereka mudah diperdaya oleh agen pencari kerja yang menyalurkan.
Yang menjadi korban traficking bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak baik laki maupun perempuan. Namun dilapangan yang lebih banyak menjadi korban adalah kaum anak dan perempuan. Melihat dari kebanyakan korban ini memang secara fisik jelas lemah dan pengetahuan mereka juga kurang.
Untuk mengenal orang yang menjadi korban traficking dapat dilihat melalui 3 (tiga) proses sebagai berikut:
- Perekrutan
- Pengangkutan
- Penyaluran
Pada tahap perekrutan
Korban diimingi dengan janji-janji manis seperti dengan gaji yang tinggi, orang yang merekrut keluar masuk kampung mencari orang yang mau bekerja diluar negeri. Mereka tidak memiliki ijin usaha PJTKI resmi dan kadang melibatkan masyarakat kampung itu sendiri untuk mencari orang dengan imbalan sesuai kesepakatan. Biasanya berkisar Rp. 200.000,- sampai dengan Rp. 500.000,- per-orang jika mendapat calon pekerja. Dalam perekrutan mereka dijanjikan pekerjaan sesuai tempat yang diminta oleh korban. Dengan janji ini korban mau menerima dengan tidak mempertimbangkan baik buruknya yang penting saya bisa bekerja keluar negeri membantu orang tua meringankan beban keluarga. Orang tua korban kadang dititipi uang oleh calo tersebut untuk meluluskan kepergian anaknya.
Tahap kedua adalah proses pengangkutan.
Sebelum korban ini diangkut ditujuan biasanya melalui proses yang bertele-tele dan agak sembunyi-sembunyi dalam pengangkutannya. Mereka ditampung dari satu tempat ketempat lainnya. Korban biasanya tidak dibawa melalui jalur lintas batas resmi kalaupun lewat maka ia tidak melalui proses pemeriksaan yang normal adanya (medical cek-up, etc). Identitas mereka juga diubah sehingga tidak sesuai dengan nama, umur dan alamat mereka sesungguhnya.
Tahap terakhir adalah Proses Penyaluran.
Setelah mereka sampai dinegara tujuan korban ditampung lagi ke agen. Sampai diagen mereka dicari majikan dan jenis pekerjaan yang ditentukan oleh agen sendiri yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Biasanya disalurkan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, tidak ada kesepakatan kerja, berapa gaji, jam kerja, serta hak-hak lainnya. Sementara itu calo yang berasal dari Indonesia sendiri sudah lepas tanggungjawab, mereka mendapat uang dari agen luar negeri sesuai jumlah orang yang mampu mereka rekrut.
Dalam proses penyaluran ini banyak korban yang tertipu. Mereka dipekerjakan ditempat-tempat hiburan malam, maupun yang sejenisnya . Mereka tidak dapat menolak kalau ada yang mencoba kabur biasanya sulit sekali lepas dari kejaran agen maupun pihak keamanan setempat. Mereka akan dikembalikan lagi ke agen atau di Penjara karena tidak memiliki pasport.
Melihat ketiga proses ini maka seseorang dikatakan korban traficking jika tidak disalurkan dengan baik dan tidak melalui prosedur yang benar. Selain itu kekerasan terhadap korban yang menyebabkan depresi batin maupun kecacatan fisik sering menimpa korban.
Di Kalimantan barat daerah yang paling banyak menjadi korban traficking adalah di Kabupaten Sambas, Landak, Bengkayang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Kebanyakan korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Mereka pada umumnya bekerja di negera bagian Sarawak Malaysia. Mereka masuk melalui jalur Entikong maupun melalui jalan setapak disepanjang perbatasan.
Pengalaman kami saat menjemput korban di Pos Lintas Batas Entikong kondisi mereka saat pemulangan sangat memprihatinkan. Mereka dibawa menggunakan mobil tahanan/penjara dan telah dipenjara dari yang 2 minggu sampai dengan 3 tahun lamanya dengan berbagai kasus. Kegiatan pemulangan ini paling tidak 1 kali dalam sebulan. Mereka yang dipulangkan pada umumnya tidak membawa apa-apa karena tertangkap oleh pihak keamanan Malaysia. Pasport maupun gaji mereka banyak yang tidak dibayar oleh majikan bahkan ada yang diambil oleh agen.
Jadi kegiatan traficking jelas merugikan korban serta melanggar hak asasi manusia. Korban tidak bisa berbuat banyak jika sudah terjadi begini. Negara sebagai pelindung warganya juga tidak mampu berbuat banyak malah sering mengabaikan rakyatnya sendiri. Walau ada Undang-undang yang dibuat tapi belum mampu mengatasi kegiatan traficking. Namun bagi anak negri ini terutama orang muda dan orang tua mungkin perlu lebih teliti dan dapat belajar dari ketiga proses diatas. Jika hendak bekerja diluar negeri sebaiknya berpikir 1000 kali sebelum memutuskan pilihan. Sebab begitu banyak korban dengan kondisi jiwa yang sakit serta cacat fisik yang diderita yang sama membunuh kemerdekaan dan hak setiap orang.
Tentunya agen yang direkrut untuk mencari tenaga kerja ini sekarang masih banyak berkeliaran dan malah melibatkan keluarga dekat sendiri untuk mencari korban.
Senin, 26 Mei 2008
PESAN
“ Wahai anak negri…. Ku mohon dengarkanlah kata-kataku ini…. Akan tiba saatnya… Ketika aku sudah tidak disini lagi … Orang lain akan datang terus menerus dengan senyum dan kelemah lembutan …. Untuk merampas apa yang sesungguhnya menjadi milikmu … Yakni tanah dimana kamu tinggal…., sumber panghasilanmu..., dan bahkan makanan yang ada dimulutmu akan diambil oleh mereka..., kalian akan kehilangan hak milik kalian yang turun menurun dimiliki..., dirampas oleh orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya akan menjadi tuan dan pemilik..., sedangkan kalian hai anak-anak negri ini ...., akan disingkirkan dan tidak akan menjadi apapun kecuali menjadi para kuli dan orang buangan dipulau sendiri.... ”.
( By. Charles Brooke____ the White Rajah of Sarawak, ___1915 ).Lembaran
pesan ini beberapa tahun lalu saya dapatkan dari orang-orang yang peduli pada borneo. Apa yang tertulis disini menggambarkan fakta akan kehancuran anak negri sekarang. Aku sedih jika sedang keliling kampung melihat hutan dan kebun karet masyarakat digusur dan diganti dengan kebun sawit.... aku kesal karena tanah anak negri ini dijual kepada pemodal karena mereka kelaparan dilumbung Tuhan yang berlimpah. Aku sedih jika melihat masih banyak anak negri ini yang tidak bersekolah dengan alasan tidak ada uang. Aku sedih melihat anak negri ini menjual tanahnya hanya demi sebuah jalan. Aku sedih melihat anak negri lebih senang menjadi buruh daripada menjadi diri sendiri... Aku sedih jika melihat anak negri ini yang menyerahkan tanah untuk kebun sawit harus membayar lagi kredit sawit. Aku sedih begitu banyak sederetan iklan yang mengundang anak negri ini supaya berpikir instant. Yaa... aku hanyalah aku ... Aku juga tidak bisa berbuat banyak mungkin hanya bisa memelas dan bersedih. Tapi setidaknya aku punya keyakinan dan terus berjuang untuk berbuat pada sesamaku. Akankah kepedulianku selama ini dilakukan juga oleh orang-orang yang memiliki jabatan dinegri ini ? atau hanya peduli pada saat ingin mejadi raja dan menarik simpati anak negri yang memang haus akan kehidupan yang bermartabat dan berdaulat ditanah sendiri.
( By. Charles Brooke____ the White Rajah of Sarawak, ___1915 ).Lembaran
pesan ini beberapa tahun lalu saya dapatkan dari orang-orang yang peduli pada borneo. Apa yang tertulis disini menggambarkan fakta akan kehancuran anak negri sekarang. Aku sedih jika sedang keliling kampung melihat hutan dan kebun karet masyarakat digusur dan diganti dengan kebun sawit.... aku kesal karena tanah anak negri ini dijual kepada pemodal karena mereka kelaparan dilumbung Tuhan yang berlimpah. Aku sedih jika melihat masih banyak anak negri ini yang tidak bersekolah dengan alasan tidak ada uang. Aku sedih melihat anak negri ini menjual tanahnya hanya demi sebuah jalan. Aku sedih melihat anak negri lebih senang menjadi buruh daripada menjadi diri sendiri... Aku sedih jika melihat anak negri ini yang menyerahkan tanah untuk kebun sawit harus membayar lagi kredit sawit. Aku sedih begitu banyak sederetan iklan yang mengundang anak negri ini supaya berpikir instant. Yaa... aku hanyalah aku ... Aku juga tidak bisa berbuat banyak mungkin hanya bisa memelas dan bersedih. Tapi setidaknya aku punya keyakinan dan terus berjuang untuk berbuat pada sesamaku. Akankah kepedulianku selama ini dilakukan juga oleh orang-orang yang memiliki jabatan dinegri ini ? atau hanya peduli pada saat ingin mejadi raja dan menarik simpati anak negri yang memang haus akan kehidupan yang bermartabat dan berdaulat ditanah sendiri.
Sabtu, 10 Mei 2008
PESONA BUKIT BELUNGAI
Sekembalinya saya setelah seminggu lebih lamanya ke luar kota tepatnya di kampung Embangai Desa Lumut Kec, Toba Teraju Kab. Sanggau. adalah Kampong kecil yang berada diruas jalan trans Kalimantan jalur timur disekitar bukit Belungai. Seingat saya sudah beberapa bulan yang lalu saya meninggalkan tempat ini dimana saya banyak belajar soal budidaya ikan air tawar pada masyarakat setempat.
Seperti biasa saya bersama warga setempat saling berbagi pengetahuan soal budidaya ikan maupun lainnya. Selama seminggu lebih disana saya bertemu dengan 1 orang siswi sebuah SMK di Kab. Ketapang yang melakukan magang budidaya ikan. Kami sempat kenalan dan berbagi pengetahuan soal budidaya ikan. Dia kelihatan agak pemalu karena kami baru saling kenal, namun tidak membuat komunikasi kami terputus. hari itu saking asyiknya berbincang-bincang ternyata jam menunjukan pukul 12 siang, tak terasa juga perut kami ikut keroncongan. Pembicaraan kami soal ikan juga terputus dan beralih ketopik lain. Sementara menunggu ikan yang lagi dibakar oleh seorang karyawan dikolam dimana kami mampir, kami menyempatkan diri mengumpan ikan yang ada di kolam pembesaran. Kerumunannya banyak sekali saat saya menabur pelet dikolam tersebut. Mereka makan secara berebutan dan sering membuat semacam pormasi yang bergantian menejemput pakan yang jatuh. Kelihatan sekali kalau mereka juga kelaparan pada siang itu.
Makan siangpun tiba, saat kami asyik menikmati santapan siang dengan menu ikan bakar, saya menoleh kearah adik SMK yang magang tadi. Ia tidak menyentuh sama sekali ikan yang dibakar maupun yang dimasak. Dengan penasaran sayapun bertanya sambil mengajak ia untuk menikmati ikan-ikan tersebut. ’ dek ngape ndak diambil ikannya kok hanya makan sayur dan sambal ja’ ? sambil mengunyah dan tersenyum ia menjawab kalo dia tidak makan ikan. Sayapun sambil bergurau ” masa calon PPL perikanan tidak mau makan ikan gimana mau jadi pengusaha ikan’ suasanapun jadi ramai dengan gelak tawa mengiringi makan siang kami hingga selesai. Sejenak lagi saya berpikir dalam hati mungkin adek ini memilih jurusan yang bukan kemauannya. Tapi pikiran itu saya abaikan semuga tidak benar dan itu adalah benar pilihan pribadinya. Saya salut buat dia karena sangat langka anak negri ini apalagi kaum hawanya memilih jurusan yang lain dari kebanyakan perempuan.
Setelah makan kamipun melanjutkan aktivitas kami masing-masing dan tidak meneruskan diskusi yang sempat terputus sebelum makan tadi. Setelah makan siang saya merasa cukup panas sehingga mencari tempat yang pas untuk duduk dengan bertelanjang dada sambil menatap kearah bukit Belungai yang hijau rimbun dari bawah.
Kelihatan sekali keindahan bukit Belungai yang menyimpan sejuta pesona serta derasnya aliran sungai Embangai. Jika hujan tiba sungai Embangai akan menurunkan berjuta-juta materil batu, pasir, pupuk alam maupun menumbuhkan sumber pakan alami bagi ikan yang diternak warga yang ditumpahkan dari dalam bukit tersebut.
Orang luar termasuk saya akan ingat Embangai karena letaknya yang strategis, ikannya yang enak dan bersih, udara yang segar serta air sungainya yang sejuk. Mereka berhenti sejenak sekedar istirahat melepas lelah sambil makan siang di Embangai. Dengan menu ikan bakar ditambah sambal dan kecap sebagai pelengkap makan siang, mereka juga menikmati keindahan bukit Belungai serta sejuknya air batang Embangai sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pontianak, Sanggau maupun kearah Kabupaten Ketapang.
Hijaunya bukit Belungai sampai sekarang tentu tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Masyarakat sekitar bukit Belungai membuat kesepakatan adat untuk tetap menjaga kelestarian bukit Belungai dengan tidak menebang kawasan tersebut untuk lahan pertanian maupun pembalakan liar. Kesepakatan adat yang dibuat menetapkan kawasan tersebut tetap hijau dan dapat diambil kayunya secara arif oleh masyarakat sekitar hanya untuk meramu bahan rumah keperluan sendiri.
Jika ada yang melanggar kesepakatan ini akan dikenakan sanksi adat maupun hukum negara. Selain itu pemerintah juga menetapkan kawasan bukit Belungai sebagai kawasan hutan lindung yang didukung dengan ketetapan SK Bupati Sanggau.
Dengan sumber air yang berlimpah yang dikandung dari dalam bukit Belungai senantiasa mengalir tiada henti sepanjang tahun. Inilah yang menjadi daya tarik Embangai bagi setiap orang yang bertandang disana.
Selain memanfaatkan air sebagai sumber air minum, mandi dan mencuci warga, aliran batang Embangai juga dikelola masyarakat untuk budidaya ikan kolam air deras baik dikelola secara pribadi-pribadi maupun secara berkelompok.
Diatas bukit Belungai sendiri terdapat Tembawang yang ditumbuhi tanaman durian, tengkawang yg sudah mulai langka , dan tanaman obat ataupun tanaman lainnya. masyarakat setempat secara turun temurun merawat dan memanen durian, orang luar juga datang ke bukit ini untuk mencari buah durian maupun yang lainnya. Setiap orang dapat mengitari bukit Belungai sambil rekreasi mencari buah durian jika musimnya tiba. Susana ini sangat mengasyikan jika melibatkan keluarga pecinta alam.
Kecintaan saya akan tempat ini selalu membekas dalam hati jika sudah pulang ke Pontianak dan ingin rasanya terus kesana. Namun ada kekhawatiran yang timbul dibenak saya jangan-jangan ada yang coba mengusik keindahan bukit Belungai. Bahkan saya ada mendengar kabar kalo bukit Belungai akan dibeli oleh orang berduit. Ini sudah tampak dengan masuknya beberapa pengusaha tambang, pengusaha sawit dan sejenisnya yang mulai mengelilingi bukit Belungai. Orang berduit berbondong-bondong mencari lahan di sekitar Bukit karena potensinya yang memang menjanjikan. Aku ragu akan kesiapan anak negri menghadapi orang luar seperti ini. Mereka mau dirayu dengan kenikmatan sesaat. Aku masih berharap mereka membuka mata, telinga dan hati untuk membangun DESA demi anak cucu.
” Bertindak hari ini untuk hari Esok menjaga Bukit Belungai sebagai nafas hidup”.
Seperti biasa saya bersama warga setempat saling berbagi pengetahuan soal budidaya ikan maupun lainnya. Selama seminggu lebih disana saya bertemu dengan 1 orang siswi sebuah SMK di Kab. Ketapang yang melakukan magang budidaya ikan. Kami sempat kenalan dan berbagi pengetahuan soal budidaya ikan. Dia kelihatan agak pemalu karena kami baru saling kenal, namun tidak membuat komunikasi kami terputus. hari itu saking asyiknya berbincang-bincang ternyata jam menunjukan pukul 12 siang, tak terasa juga perut kami ikut keroncongan. Pembicaraan kami soal ikan juga terputus dan beralih ketopik lain. Sementara menunggu ikan yang lagi dibakar oleh seorang karyawan dikolam dimana kami mampir, kami menyempatkan diri mengumpan ikan yang ada di kolam pembesaran. Kerumunannya banyak sekali saat saya menabur pelet dikolam tersebut. Mereka makan secara berebutan dan sering membuat semacam pormasi yang bergantian menejemput pakan yang jatuh. Kelihatan sekali kalau mereka juga kelaparan pada siang itu.
Makan siangpun tiba, saat kami asyik menikmati santapan siang dengan menu ikan bakar, saya menoleh kearah adik SMK yang magang tadi. Ia tidak menyentuh sama sekali ikan yang dibakar maupun yang dimasak. Dengan penasaran sayapun bertanya sambil mengajak ia untuk menikmati ikan-ikan tersebut. ’ dek ngape ndak diambil ikannya kok hanya makan sayur dan sambal ja’ ? sambil mengunyah dan tersenyum ia menjawab kalo dia tidak makan ikan. Sayapun sambil bergurau ” masa calon PPL perikanan tidak mau makan ikan gimana mau jadi pengusaha ikan’ suasanapun jadi ramai dengan gelak tawa mengiringi makan siang kami hingga selesai. Sejenak lagi saya berpikir dalam hati mungkin adek ini memilih jurusan yang bukan kemauannya. Tapi pikiran itu saya abaikan semuga tidak benar dan itu adalah benar pilihan pribadinya. Saya salut buat dia karena sangat langka anak negri ini apalagi kaum hawanya memilih jurusan yang lain dari kebanyakan perempuan.
Setelah makan kamipun melanjutkan aktivitas kami masing-masing dan tidak meneruskan diskusi yang sempat terputus sebelum makan tadi. Setelah makan siang saya merasa cukup panas sehingga mencari tempat yang pas untuk duduk dengan bertelanjang dada sambil menatap kearah bukit Belungai yang hijau rimbun dari bawah.
Kelihatan sekali keindahan bukit Belungai yang menyimpan sejuta pesona serta derasnya aliran sungai Embangai. Jika hujan tiba sungai Embangai akan menurunkan berjuta-juta materil batu, pasir, pupuk alam maupun menumbuhkan sumber pakan alami bagi ikan yang diternak warga yang ditumpahkan dari dalam bukit tersebut.
Orang luar termasuk saya akan ingat Embangai karena letaknya yang strategis, ikannya yang enak dan bersih, udara yang segar serta air sungainya yang sejuk. Mereka berhenti sejenak sekedar istirahat melepas lelah sambil makan siang di Embangai. Dengan menu ikan bakar ditambah sambal dan kecap sebagai pelengkap makan siang, mereka juga menikmati keindahan bukit Belungai serta sejuknya air batang Embangai sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pontianak, Sanggau maupun kearah Kabupaten Ketapang.
Hijaunya bukit Belungai sampai sekarang tentu tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Masyarakat sekitar bukit Belungai membuat kesepakatan adat untuk tetap menjaga kelestarian bukit Belungai dengan tidak menebang kawasan tersebut untuk lahan pertanian maupun pembalakan liar. Kesepakatan adat yang dibuat menetapkan kawasan tersebut tetap hijau dan dapat diambil kayunya secara arif oleh masyarakat sekitar hanya untuk meramu bahan rumah keperluan sendiri.
Jika ada yang melanggar kesepakatan ini akan dikenakan sanksi adat maupun hukum negara. Selain itu pemerintah juga menetapkan kawasan bukit Belungai sebagai kawasan hutan lindung yang didukung dengan ketetapan SK Bupati Sanggau.
Dengan sumber air yang berlimpah yang dikandung dari dalam bukit Belungai senantiasa mengalir tiada henti sepanjang tahun. Inilah yang menjadi daya tarik Embangai bagi setiap orang yang bertandang disana.
Selain memanfaatkan air sebagai sumber air minum, mandi dan mencuci warga, aliran batang Embangai juga dikelola masyarakat untuk budidaya ikan kolam air deras baik dikelola secara pribadi-pribadi maupun secara berkelompok.
Diatas bukit Belungai sendiri terdapat Tembawang yang ditumbuhi tanaman durian, tengkawang yg sudah mulai langka , dan tanaman obat ataupun tanaman lainnya. masyarakat setempat secara turun temurun merawat dan memanen durian, orang luar juga datang ke bukit ini untuk mencari buah durian maupun yang lainnya. Setiap orang dapat mengitari bukit Belungai sambil rekreasi mencari buah durian jika musimnya tiba. Susana ini sangat mengasyikan jika melibatkan keluarga pecinta alam.
Kecintaan saya akan tempat ini selalu membekas dalam hati jika sudah pulang ke Pontianak dan ingin rasanya terus kesana. Namun ada kekhawatiran yang timbul dibenak saya jangan-jangan ada yang coba mengusik keindahan bukit Belungai. Bahkan saya ada mendengar kabar kalo bukit Belungai akan dibeli oleh orang berduit. Ini sudah tampak dengan masuknya beberapa pengusaha tambang, pengusaha sawit dan sejenisnya yang mulai mengelilingi bukit Belungai. Orang berduit berbondong-bondong mencari lahan di sekitar Bukit karena potensinya yang memang menjanjikan. Aku ragu akan kesiapan anak negri menghadapi orang luar seperti ini. Mereka mau dirayu dengan kenikmatan sesaat. Aku masih berharap mereka membuka mata, telinga dan hati untuk membangun DESA demi anak cucu.
” Bertindak hari ini untuk hari Esok menjaga Bukit Belungai sebagai nafas hidup”.
Rabu, 23 April 2008
Pencarian Mu adalah Pencarian Orang lain juga
Ketika sakit menghantuiku…. kondisi jiwa dan fisikku akan berubah….. ia beraksi …. melumpuhkan segala akal sehatku. Mencoba merdeka diantara pertarunganku melawan diri sendiri….
Celah-celah hembusan angin penyegaran dirampas oleh akal busukku…. membuka pintu kebuntuan …
Sakit itu lahir diantara tindakan pikirku…. ketika aku bertindak diluar batas akal sehatku ia mencoba mengingatkan bahwa begitu besar beban yang tak semestinya dipikul….
Sakit itu mengingatkan aku kembali ….bahwa segala sesuatu diluar batas akal sehatku…. diluar kesatuan dengan Tuhan….. diluar hukum kesimbangan adalah kemustahilan….
Kesadaran untuk berubah adalah obat baik bagi penyembuhan… mengakui kekuatan penciptaan adalah komitmen tak terbantah yang pernah ada dalam kehidupan…
Sakit adalah tanda kemunduran akal dan pikiran kita…. pengingat setia yang datang tak diundang hadir tak bisa ditolak…. Ia lahir diantara panggilan nurani dan fisik yang tak terbatas…
Hadir dan tinggal ditengah-tengah sakit itu adalah jalan terbaik yang dilakukan… Dengan perlahan dan pasti bersama kekuatan penciptaan, kita mencoba mengalihkannya untuk menjaga kemurnian diri … menjaga kebersihan pikiran… walau dalam tantangan yang berat bahwa itulah pencarian HIDUP sejati…
Kadang sakit melahirkan kebencian yang terdalam kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,…. Kita kadang menolak perubahan hanya untuk menutup ke egoisan diri…. lebih senang memendam keburukan…. kadang membunuh karakter diri sendiri, tak heran sakit bertubi menghampiri…. membuat kita lupa pada tujuan awal kehidupan….
Perjalanan itu semakin semu… ketika pilihan perubahan pada kebaikan terabaikan…
Dimanakah diri anda saat ini… apakah dipersimpangan atau diantara pencarian semu ? Jika kesakitan itu diperoleh… maka ialah bagian dari peta kehidupan. Bagaimana anda terhadap diri sendiri ? … demikian pula anda mengkondisikan orang lain…
Ketika aku sakit maka orang lain disekitarku juga sakit… hukum sebab akibat berlaku disini Manusia sebagai Citra Allah menunjukan keberadaannya terhadap sesama. maka haruskah aku menolak untuk membantu orang lain …. disaat mereka membutuhkan pertolongan ?.... Sementara aku mesti berperang melawan perasaan… dimana perasaan menjadi momok menakutkan yang terus menghantui akal sehatku… berperang melawan batin.
Pengabaian dan individualitas semata adalah tanda keremukan jiwa…saat pandangan pertama sesungguhnya tiada kelihatan…Akar pelopor gerakan menjadi tumpul semenjak penopang dan pecundang selalu mencari kambing hitam… menutupi kesakitan membusukan diri kedalam balutan pengingkaran…Ia selalu bisa mementingkan diri sendiri dan berusaha membunuh cahaya pencerahan…berusaha menyingkirkan dengan segala cara…
Kadang kita lupa semua ada masanya… dimana kita mesti memahami sakit sebagai buah dari yang kita tanam… mesti membaharui diri kedalam kesetiaan akan Cinta Kasih…
Sudahkah anda menabur pengharapan yang murni… disaat pencarianmu adalah pencarian orang lain juga ? Ingat kawan dinamika dan paradigma menjadi modal kamu untuk menyelami diri… untuk kamu bermimpi dan lihatlah kedua hal ini….
Celah-celah hembusan angin penyegaran dirampas oleh akal busukku…. membuka pintu kebuntuan …
Sakit itu lahir diantara tindakan pikirku…. ketika aku bertindak diluar batas akal sehatku ia mencoba mengingatkan bahwa begitu besar beban yang tak semestinya dipikul….
Sakit itu mengingatkan aku kembali ….bahwa segala sesuatu diluar batas akal sehatku…. diluar kesatuan dengan Tuhan….. diluar hukum kesimbangan adalah kemustahilan….
Kesadaran untuk berubah adalah obat baik bagi penyembuhan… mengakui kekuatan penciptaan adalah komitmen tak terbantah yang pernah ada dalam kehidupan…
Sakit adalah tanda kemunduran akal dan pikiran kita…. pengingat setia yang datang tak diundang hadir tak bisa ditolak…. Ia lahir diantara panggilan nurani dan fisik yang tak terbatas…
Hadir dan tinggal ditengah-tengah sakit itu adalah jalan terbaik yang dilakukan… Dengan perlahan dan pasti bersama kekuatan penciptaan, kita mencoba mengalihkannya untuk menjaga kemurnian diri … menjaga kebersihan pikiran… walau dalam tantangan yang berat bahwa itulah pencarian HIDUP sejati…
Kadang sakit melahirkan kebencian yang terdalam kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,…. Kita kadang menolak perubahan hanya untuk menutup ke egoisan diri…. lebih senang memendam keburukan…. kadang membunuh karakter diri sendiri, tak heran sakit bertubi menghampiri…. membuat kita lupa pada tujuan awal kehidupan….
Perjalanan itu semakin semu… ketika pilihan perubahan pada kebaikan terabaikan…
Dimanakah diri anda saat ini… apakah dipersimpangan atau diantara pencarian semu ? Jika kesakitan itu diperoleh… maka ialah bagian dari peta kehidupan. Bagaimana anda terhadap diri sendiri ? … demikian pula anda mengkondisikan orang lain…
Ketika aku sakit maka orang lain disekitarku juga sakit… hukum sebab akibat berlaku disini Manusia sebagai Citra Allah menunjukan keberadaannya terhadap sesama. maka haruskah aku menolak untuk membantu orang lain …. disaat mereka membutuhkan pertolongan ?.... Sementara aku mesti berperang melawan perasaan… dimana perasaan menjadi momok menakutkan yang terus menghantui akal sehatku… berperang melawan batin.
Pengabaian dan individualitas semata adalah tanda keremukan jiwa…saat pandangan pertama sesungguhnya tiada kelihatan…Akar pelopor gerakan menjadi tumpul semenjak penopang dan pecundang selalu mencari kambing hitam… menutupi kesakitan membusukan diri kedalam balutan pengingkaran…Ia selalu bisa mementingkan diri sendiri dan berusaha membunuh cahaya pencerahan…berusaha menyingkirkan dengan segala cara…
Kadang kita lupa semua ada masanya… dimana kita mesti memahami sakit sebagai buah dari yang kita tanam… mesti membaharui diri kedalam kesetiaan akan Cinta Kasih…
Sudahkah anda menabur pengharapan yang murni… disaat pencarianmu adalah pencarian orang lain juga ? Ingat kawan dinamika dan paradigma menjadi modal kamu untuk menyelami diri… untuk kamu bermimpi dan lihatlah kedua hal ini….
Jumat, 11 April 2008
Usaha Masyarakat Pada Kondisi Serba Sulit
Catatan Pulang Kampung
Tingginya harga kebutuhan Pokok akhir-akhir ini akibat resesi dunia dan kenaikan harga minyak bumi menyebabkan pengaruh pada perekonomian dunia. Tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia, dampak kenaikan harga secara global mempegaruhi ABPN. Yang sangat berimplikasi pada kenaikan ini adalah pada komoditi beras, minyak dan gas. kenaikan ini membuat lemahnya daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, minyak goreng maupun kebutuhan hidup lainnya bagai tak terkendali terus menanjak naik. Ibu-ibu banyak yang ngeluh karena sulit sekali membagi dan mengatur uang belanja. Mereka mesti mengevaluasi dan menghitung ulang arus kas keluarga untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan krisis ekonomi jilid II.
Selain harga sembako yang terus naik, kelangkaan minyak tanah dan gas terus menghantui masyarakat diseluruh Indonesia tak terkecuali di kalimantan Barat. Kenaikan sembako dan kelangkaan minyak tanah dan Gas semakin terasa terutama di perkotaan,. Sulitnya mendapatkan minyak tanah atau gas dikarenakan lambatnya pasokan yang disebabkan kondisi cuaca yang mengganggu pelayaran. Selain itu ada pihak tertentu yang disinyalir melakukan spekulasi sehingga terjadi kelangkaan.
Dampak kenaikan harga sembako dan kelangkaan minyak tanah dan gas di daerah tidaklah begitu terasa dan separah diperkotaan. Kecuali untuk bahan bangunan seperti seng, semen, kawat dll, kenaikannya memang agak terasa. dimana kenaikan harga bahan bangunan diatas 100 % dalam beberapa bulan ini.
Masyarakat di daerah sekarang ini masih menikmati hasil panen padi baik berladang maupun sawah. Selain itu mereka juga didaerah diuntungkan dengan naiknya harga komoditi pertanian seperti karet, sawit , coklat, lada maupun komoditas lainnya. Daya beli masyarakat cukup berimbang dengan meningkatnya harga komoditi tersebut, karena penghasilan mereka dari hasil kebun juga meningkat.
Bagi masyarakat didaerah perbatasan, kelangkaan minyak tanah dan gas tidak begitu terasa karena mereka mendapat pasokan gas dan kebutuhan hidup lainnya dari negeri Jiran dengan harga yang wajar pula.
Sedangkan masyarakat yang tinggal dikampung yang masih memiliki hutan dan kebun karet, mereka dapat menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dengan ketersediaan lahan seperti ini mereka masih dapat mengolah lahannya untuk berkebun sayur ataupun usaha lain yang dapat dijual untuk menambah penghasilan.
Berbeda dengan masyarakat yang berada di pemukiman perkebunan kelapa sawit seperti warga Trans di kampong kami, semua kebutuhan hidup serba dibeli. Pada kondisi sekarang Warga Trans mau tak mau harus antri membeli gas atau minyak tanah.
Untuk mengurangi biaya dan sulitnya mendapatkan minyak tanah serta gas elpiji, bagi yang kreatif masyarakat yang tinggal di perkebunan kelapa sawit menggunakan pelepah sawit untuk dijadikan kayu bakar dalam rangka penghematan.
Pada situasi ini masyarakat di daerah mau tak mau menerima kenyataan dan melakukan berbagai upaya usaha dan penghematan akibat kenaikan kebutuhan hidup yang mana mereka tak tahu penyebabnya dan sampai kapan berakhirnya.
Tingginya harga kebutuhan Pokok akhir-akhir ini akibat resesi dunia dan kenaikan harga minyak bumi menyebabkan pengaruh pada perekonomian dunia. Tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia, dampak kenaikan harga secara global mempegaruhi ABPN. Yang sangat berimplikasi pada kenaikan ini adalah pada komoditi beras, minyak dan gas. kenaikan ini membuat lemahnya daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, minyak goreng maupun kebutuhan hidup lainnya bagai tak terkendali terus menanjak naik. Ibu-ibu banyak yang ngeluh karena sulit sekali membagi dan mengatur uang belanja. Mereka mesti mengevaluasi dan menghitung ulang arus kas keluarga untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan krisis ekonomi jilid II.
Selain harga sembako yang terus naik, kelangkaan minyak tanah dan gas terus menghantui masyarakat diseluruh Indonesia tak terkecuali di kalimantan Barat. Kenaikan sembako dan kelangkaan minyak tanah dan Gas semakin terasa terutama di perkotaan,. Sulitnya mendapatkan minyak tanah atau gas dikarenakan lambatnya pasokan yang disebabkan kondisi cuaca yang mengganggu pelayaran. Selain itu ada pihak tertentu yang disinyalir melakukan spekulasi sehingga terjadi kelangkaan.
Dampak kenaikan harga sembako dan kelangkaan minyak tanah dan gas di daerah tidaklah begitu terasa dan separah diperkotaan. Kecuali untuk bahan bangunan seperti seng, semen, kawat dll, kenaikannya memang agak terasa. dimana kenaikan harga bahan bangunan diatas 100 % dalam beberapa bulan ini.
Masyarakat di daerah sekarang ini masih menikmati hasil panen padi baik berladang maupun sawah. Selain itu mereka juga didaerah diuntungkan dengan naiknya harga komoditi pertanian seperti karet, sawit , coklat, lada maupun komoditas lainnya. Daya beli masyarakat cukup berimbang dengan meningkatnya harga komoditi tersebut, karena penghasilan mereka dari hasil kebun juga meningkat.
Bagi masyarakat didaerah perbatasan, kelangkaan minyak tanah dan gas tidak begitu terasa karena mereka mendapat pasokan gas dan kebutuhan hidup lainnya dari negeri Jiran dengan harga yang wajar pula.
Sedangkan masyarakat yang tinggal dikampung yang masih memiliki hutan dan kebun karet, mereka dapat menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dengan ketersediaan lahan seperti ini mereka masih dapat mengolah lahannya untuk berkebun sayur ataupun usaha lain yang dapat dijual untuk menambah penghasilan.
Berbeda dengan masyarakat yang berada di pemukiman perkebunan kelapa sawit seperti warga Trans di kampong kami, semua kebutuhan hidup serba dibeli. Pada kondisi sekarang Warga Trans mau tak mau harus antri membeli gas atau minyak tanah.
Untuk mengurangi biaya dan sulitnya mendapatkan minyak tanah serta gas elpiji, bagi yang kreatif masyarakat yang tinggal di perkebunan kelapa sawit menggunakan pelepah sawit untuk dijadikan kayu bakar dalam rangka penghematan.
Pada situasi ini masyarakat di daerah mau tak mau menerima kenyataan dan melakukan berbagai upaya usaha dan penghematan akibat kenaikan kebutuhan hidup yang mana mereka tak tahu penyebabnya dan sampai kapan berakhirnya.
Langganan:
Postingan (Atom)