“ Wahai anak negri…. Ku mohon dengarkanlah kata-kataku ini…. Akan tiba saatnya… Ketika aku sudah tidak disini lagi … Orang lain akan datang terus menerus dengan senyum dan kelemah lembutan …. Untuk merampas apa yang sesungguhnya menjadi milikmu … Yakni tanah dimana kamu tinggal…., sumber panghasilanmu..., dan bahkan makanan yang ada dimulutmu akan diambil oleh mereka..., kalian akan kehilangan hak milik kalian yang turun menurun dimiliki..., dirampas oleh orang asing dan para spekulan yang pada gilirannya akan menjadi tuan dan pemilik..., sedangkan kalian hai anak-anak negri ini ...., akan disingkirkan dan tidak akan menjadi apapun kecuali menjadi para kuli dan orang buangan dipulau sendiri.... ”.
( By. Charles Brooke____ the White Rajah of Sarawak, ___1915 ).Lembaran
pesan ini beberapa tahun lalu saya dapatkan dari orang-orang yang peduli pada borneo. Apa yang tertulis disini menggambarkan fakta akan kehancuran anak negri sekarang. Aku sedih jika sedang keliling kampung melihat hutan dan kebun karet masyarakat digusur dan diganti dengan kebun sawit.... aku kesal karena tanah anak negri ini dijual kepada pemodal karena mereka kelaparan dilumbung Tuhan yang berlimpah. Aku sedih jika melihat masih banyak anak negri ini yang tidak bersekolah dengan alasan tidak ada uang. Aku sedih melihat anak negri ini menjual tanahnya hanya demi sebuah jalan. Aku sedih melihat anak negri lebih senang menjadi buruh daripada menjadi diri sendiri... Aku sedih jika melihat anak negri ini yang menyerahkan tanah untuk kebun sawit harus membayar lagi kredit sawit. Aku sedih begitu banyak sederetan iklan yang mengundang anak negri ini supaya berpikir instant. Yaa... aku hanyalah aku ... Aku juga tidak bisa berbuat banyak mungkin hanya bisa memelas dan bersedih. Tapi setidaknya aku punya keyakinan dan terus berjuang untuk berbuat pada sesamaku. Akankah kepedulianku selama ini dilakukan juga oleh orang-orang yang memiliki jabatan dinegri ini ? atau hanya peduli pada saat ingin mejadi raja dan menarik simpati anak negri yang memang haus akan kehidupan yang bermartabat dan berdaulat ditanah sendiri.
Kesatuan Kekuatan Tak terbantah... Aku ada karena KESATUAN... Belajar adalah Proses Keseimbangan Untuk Kehidupan Mencapai Kesatuan....
Senin, 26 Mei 2008
Sabtu, 10 Mei 2008
PESONA BUKIT BELUNGAI
Sekembalinya saya setelah seminggu lebih lamanya ke luar kota tepatnya di kampung Embangai Desa Lumut Kec, Toba Teraju Kab. Sanggau. adalah Kampong kecil yang berada diruas jalan trans Kalimantan jalur timur disekitar bukit Belungai. Seingat saya sudah beberapa bulan yang lalu saya meninggalkan tempat ini dimana saya banyak belajar soal budidaya ikan air tawar pada masyarakat setempat.
Seperti biasa saya bersama warga setempat saling berbagi pengetahuan soal budidaya ikan maupun lainnya. Selama seminggu lebih disana saya bertemu dengan 1 orang siswi sebuah SMK di Kab. Ketapang yang melakukan magang budidaya ikan. Kami sempat kenalan dan berbagi pengetahuan soal budidaya ikan. Dia kelihatan agak pemalu karena kami baru saling kenal, namun tidak membuat komunikasi kami terputus. hari itu saking asyiknya berbincang-bincang ternyata jam menunjukan pukul 12 siang, tak terasa juga perut kami ikut keroncongan. Pembicaraan kami soal ikan juga terputus dan beralih ketopik lain. Sementara menunggu ikan yang lagi dibakar oleh seorang karyawan dikolam dimana kami mampir, kami menyempatkan diri mengumpan ikan yang ada di kolam pembesaran. Kerumunannya banyak sekali saat saya menabur pelet dikolam tersebut. Mereka makan secara berebutan dan sering membuat semacam pormasi yang bergantian menejemput pakan yang jatuh. Kelihatan sekali kalau mereka juga kelaparan pada siang itu.
Makan siangpun tiba, saat kami asyik menikmati santapan siang dengan menu ikan bakar, saya menoleh kearah adik SMK yang magang tadi. Ia tidak menyentuh sama sekali ikan yang dibakar maupun yang dimasak. Dengan penasaran sayapun bertanya sambil mengajak ia untuk menikmati ikan-ikan tersebut. ’ dek ngape ndak diambil ikannya kok hanya makan sayur dan sambal ja’ ? sambil mengunyah dan tersenyum ia menjawab kalo dia tidak makan ikan. Sayapun sambil bergurau ” masa calon PPL perikanan tidak mau makan ikan gimana mau jadi pengusaha ikan’ suasanapun jadi ramai dengan gelak tawa mengiringi makan siang kami hingga selesai. Sejenak lagi saya berpikir dalam hati mungkin adek ini memilih jurusan yang bukan kemauannya. Tapi pikiran itu saya abaikan semuga tidak benar dan itu adalah benar pilihan pribadinya. Saya salut buat dia karena sangat langka anak negri ini apalagi kaum hawanya memilih jurusan yang lain dari kebanyakan perempuan.
Setelah makan kamipun melanjutkan aktivitas kami masing-masing dan tidak meneruskan diskusi yang sempat terputus sebelum makan tadi. Setelah makan siang saya merasa cukup panas sehingga mencari tempat yang pas untuk duduk dengan bertelanjang dada sambil menatap kearah bukit Belungai yang hijau rimbun dari bawah.
Kelihatan sekali keindahan bukit Belungai yang menyimpan sejuta pesona serta derasnya aliran sungai Embangai. Jika hujan tiba sungai Embangai akan menurunkan berjuta-juta materil batu, pasir, pupuk alam maupun menumbuhkan sumber pakan alami bagi ikan yang diternak warga yang ditumpahkan dari dalam bukit tersebut.
Orang luar termasuk saya akan ingat Embangai karena letaknya yang strategis, ikannya yang enak dan bersih, udara yang segar serta air sungainya yang sejuk. Mereka berhenti sejenak sekedar istirahat melepas lelah sambil makan siang di Embangai. Dengan menu ikan bakar ditambah sambal dan kecap sebagai pelengkap makan siang, mereka juga menikmati keindahan bukit Belungai serta sejuknya air batang Embangai sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pontianak, Sanggau maupun kearah Kabupaten Ketapang.
Hijaunya bukit Belungai sampai sekarang tentu tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Masyarakat sekitar bukit Belungai membuat kesepakatan adat untuk tetap menjaga kelestarian bukit Belungai dengan tidak menebang kawasan tersebut untuk lahan pertanian maupun pembalakan liar. Kesepakatan adat yang dibuat menetapkan kawasan tersebut tetap hijau dan dapat diambil kayunya secara arif oleh masyarakat sekitar hanya untuk meramu bahan rumah keperluan sendiri.
Jika ada yang melanggar kesepakatan ini akan dikenakan sanksi adat maupun hukum negara. Selain itu pemerintah juga menetapkan kawasan bukit Belungai sebagai kawasan hutan lindung yang didukung dengan ketetapan SK Bupati Sanggau.
Dengan sumber air yang berlimpah yang dikandung dari dalam bukit Belungai senantiasa mengalir tiada henti sepanjang tahun. Inilah yang menjadi daya tarik Embangai bagi setiap orang yang bertandang disana.
Selain memanfaatkan air sebagai sumber air minum, mandi dan mencuci warga, aliran batang Embangai juga dikelola masyarakat untuk budidaya ikan kolam air deras baik dikelola secara pribadi-pribadi maupun secara berkelompok.
Diatas bukit Belungai sendiri terdapat Tembawang yang ditumbuhi tanaman durian, tengkawang yg sudah mulai langka , dan tanaman obat ataupun tanaman lainnya. masyarakat setempat secara turun temurun merawat dan memanen durian, orang luar juga datang ke bukit ini untuk mencari buah durian maupun yang lainnya. Setiap orang dapat mengitari bukit Belungai sambil rekreasi mencari buah durian jika musimnya tiba. Susana ini sangat mengasyikan jika melibatkan keluarga pecinta alam.
Kecintaan saya akan tempat ini selalu membekas dalam hati jika sudah pulang ke Pontianak dan ingin rasanya terus kesana. Namun ada kekhawatiran yang timbul dibenak saya jangan-jangan ada yang coba mengusik keindahan bukit Belungai. Bahkan saya ada mendengar kabar kalo bukit Belungai akan dibeli oleh orang berduit. Ini sudah tampak dengan masuknya beberapa pengusaha tambang, pengusaha sawit dan sejenisnya yang mulai mengelilingi bukit Belungai. Orang berduit berbondong-bondong mencari lahan di sekitar Bukit karena potensinya yang memang menjanjikan. Aku ragu akan kesiapan anak negri menghadapi orang luar seperti ini. Mereka mau dirayu dengan kenikmatan sesaat. Aku masih berharap mereka membuka mata, telinga dan hati untuk membangun DESA demi anak cucu.
” Bertindak hari ini untuk hari Esok menjaga Bukit Belungai sebagai nafas hidup”.
Seperti biasa saya bersama warga setempat saling berbagi pengetahuan soal budidaya ikan maupun lainnya. Selama seminggu lebih disana saya bertemu dengan 1 orang siswi sebuah SMK di Kab. Ketapang yang melakukan magang budidaya ikan. Kami sempat kenalan dan berbagi pengetahuan soal budidaya ikan. Dia kelihatan agak pemalu karena kami baru saling kenal, namun tidak membuat komunikasi kami terputus. hari itu saking asyiknya berbincang-bincang ternyata jam menunjukan pukul 12 siang, tak terasa juga perut kami ikut keroncongan. Pembicaraan kami soal ikan juga terputus dan beralih ketopik lain. Sementara menunggu ikan yang lagi dibakar oleh seorang karyawan dikolam dimana kami mampir, kami menyempatkan diri mengumpan ikan yang ada di kolam pembesaran. Kerumunannya banyak sekali saat saya menabur pelet dikolam tersebut. Mereka makan secara berebutan dan sering membuat semacam pormasi yang bergantian menejemput pakan yang jatuh. Kelihatan sekali kalau mereka juga kelaparan pada siang itu.
Makan siangpun tiba, saat kami asyik menikmati santapan siang dengan menu ikan bakar, saya menoleh kearah adik SMK yang magang tadi. Ia tidak menyentuh sama sekali ikan yang dibakar maupun yang dimasak. Dengan penasaran sayapun bertanya sambil mengajak ia untuk menikmati ikan-ikan tersebut. ’ dek ngape ndak diambil ikannya kok hanya makan sayur dan sambal ja’ ? sambil mengunyah dan tersenyum ia menjawab kalo dia tidak makan ikan. Sayapun sambil bergurau ” masa calon PPL perikanan tidak mau makan ikan gimana mau jadi pengusaha ikan’ suasanapun jadi ramai dengan gelak tawa mengiringi makan siang kami hingga selesai. Sejenak lagi saya berpikir dalam hati mungkin adek ini memilih jurusan yang bukan kemauannya. Tapi pikiran itu saya abaikan semuga tidak benar dan itu adalah benar pilihan pribadinya. Saya salut buat dia karena sangat langka anak negri ini apalagi kaum hawanya memilih jurusan yang lain dari kebanyakan perempuan.
Setelah makan kamipun melanjutkan aktivitas kami masing-masing dan tidak meneruskan diskusi yang sempat terputus sebelum makan tadi. Setelah makan siang saya merasa cukup panas sehingga mencari tempat yang pas untuk duduk dengan bertelanjang dada sambil menatap kearah bukit Belungai yang hijau rimbun dari bawah.
Kelihatan sekali keindahan bukit Belungai yang menyimpan sejuta pesona serta derasnya aliran sungai Embangai. Jika hujan tiba sungai Embangai akan menurunkan berjuta-juta materil batu, pasir, pupuk alam maupun menumbuhkan sumber pakan alami bagi ikan yang diternak warga yang ditumpahkan dari dalam bukit tersebut.
Orang luar termasuk saya akan ingat Embangai karena letaknya yang strategis, ikannya yang enak dan bersih, udara yang segar serta air sungainya yang sejuk. Mereka berhenti sejenak sekedar istirahat melepas lelah sambil makan siang di Embangai. Dengan menu ikan bakar ditambah sambal dan kecap sebagai pelengkap makan siang, mereka juga menikmati keindahan bukit Belungai serta sejuknya air batang Embangai sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pontianak, Sanggau maupun kearah Kabupaten Ketapang.
Hijaunya bukit Belungai sampai sekarang tentu tidak terlepas dari peran serta masyarakat. Masyarakat sekitar bukit Belungai membuat kesepakatan adat untuk tetap menjaga kelestarian bukit Belungai dengan tidak menebang kawasan tersebut untuk lahan pertanian maupun pembalakan liar. Kesepakatan adat yang dibuat menetapkan kawasan tersebut tetap hijau dan dapat diambil kayunya secara arif oleh masyarakat sekitar hanya untuk meramu bahan rumah keperluan sendiri.
Jika ada yang melanggar kesepakatan ini akan dikenakan sanksi adat maupun hukum negara. Selain itu pemerintah juga menetapkan kawasan bukit Belungai sebagai kawasan hutan lindung yang didukung dengan ketetapan SK Bupati Sanggau.
Dengan sumber air yang berlimpah yang dikandung dari dalam bukit Belungai senantiasa mengalir tiada henti sepanjang tahun. Inilah yang menjadi daya tarik Embangai bagi setiap orang yang bertandang disana.
Selain memanfaatkan air sebagai sumber air minum, mandi dan mencuci warga, aliran batang Embangai juga dikelola masyarakat untuk budidaya ikan kolam air deras baik dikelola secara pribadi-pribadi maupun secara berkelompok.
Diatas bukit Belungai sendiri terdapat Tembawang yang ditumbuhi tanaman durian, tengkawang yg sudah mulai langka , dan tanaman obat ataupun tanaman lainnya. masyarakat setempat secara turun temurun merawat dan memanen durian, orang luar juga datang ke bukit ini untuk mencari buah durian maupun yang lainnya. Setiap orang dapat mengitari bukit Belungai sambil rekreasi mencari buah durian jika musimnya tiba. Susana ini sangat mengasyikan jika melibatkan keluarga pecinta alam.
Kecintaan saya akan tempat ini selalu membekas dalam hati jika sudah pulang ke Pontianak dan ingin rasanya terus kesana. Namun ada kekhawatiran yang timbul dibenak saya jangan-jangan ada yang coba mengusik keindahan bukit Belungai. Bahkan saya ada mendengar kabar kalo bukit Belungai akan dibeli oleh orang berduit. Ini sudah tampak dengan masuknya beberapa pengusaha tambang, pengusaha sawit dan sejenisnya yang mulai mengelilingi bukit Belungai. Orang berduit berbondong-bondong mencari lahan di sekitar Bukit karena potensinya yang memang menjanjikan. Aku ragu akan kesiapan anak negri menghadapi orang luar seperti ini. Mereka mau dirayu dengan kenikmatan sesaat. Aku masih berharap mereka membuka mata, telinga dan hati untuk membangun DESA demi anak cucu.
” Bertindak hari ini untuk hari Esok menjaga Bukit Belungai sebagai nafas hidup”.
Rabu, 23 April 2008
Pencarian Mu adalah Pencarian Orang lain juga
Ketika sakit menghantuiku…. kondisi jiwa dan fisikku akan berubah….. ia beraksi …. melumpuhkan segala akal sehatku. Mencoba merdeka diantara pertarunganku melawan diri sendiri….
Celah-celah hembusan angin penyegaran dirampas oleh akal busukku…. membuka pintu kebuntuan …
Sakit itu lahir diantara tindakan pikirku…. ketika aku bertindak diluar batas akal sehatku ia mencoba mengingatkan bahwa begitu besar beban yang tak semestinya dipikul….
Sakit itu mengingatkan aku kembali ….bahwa segala sesuatu diluar batas akal sehatku…. diluar kesatuan dengan Tuhan….. diluar hukum kesimbangan adalah kemustahilan….
Kesadaran untuk berubah adalah obat baik bagi penyembuhan… mengakui kekuatan penciptaan adalah komitmen tak terbantah yang pernah ada dalam kehidupan…
Sakit adalah tanda kemunduran akal dan pikiran kita…. pengingat setia yang datang tak diundang hadir tak bisa ditolak…. Ia lahir diantara panggilan nurani dan fisik yang tak terbatas…
Hadir dan tinggal ditengah-tengah sakit itu adalah jalan terbaik yang dilakukan… Dengan perlahan dan pasti bersama kekuatan penciptaan, kita mencoba mengalihkannya untuk menjaga kemurnian diri … menjaga kebersihan pikiran… walau dalam tantangan yang berat bahwa itulah pencarian HIDUP sejati…
Kadang sakit melahirkan kebencian yang terdalam kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,…. Kita kadang menolak perubahan hanya untuk menutup ke egoisan diri…. lebih senang memendam keburukan…. kadang membunuh karakter diri sendiri, tak heran sakit bertubi menghampiri…. membuat kita lupa pada tujuan awal kehidupan….
Perjalanan itu semakin semu… ketika pilihan perubahan pada kebaikan terabaikan…
Dimanakah diri anda saat ini… apakah dipersimpangan atau diantara pencarian semu ? Jika kesakitan itu diperoleh… maka ialah bagian dari peta kehidupan. Bagaimana anda terhadap diri sendiri ? … demikian pula anda mengkondisikan orang lain…
Ketika aku sakit maka orang lain disekitarku juga sakit… hukum sebab akibat berlaku disini Manusia sebagai Citra Allah menunjukan keberadaannya terhadap sesama. maka haruskah aku menolak untuk membantu orang lain …. disaat mereka membutuhkan pertolongan ?.... Sementara aku mesti berperang melawan perasaan… dimana perasaan menjadi momok menakutkan yang terus menghantui akal sehatku… berperang melawan batin.
Pengabaian dan individualitas semata adalah tanda keremukan jiwa…saat pandangan pertama sesungguhnya tiada kelihatan…Akar pelopor gerakan menjadi tumpul semenjak penopang dan pecundang selalu mencari kambing hitam… menutupi kesakitan membusukan diri kedalam balutan pengingkaran…Ia selalu bisa mementingkan diri sendiri dan berusaha membunuh cahaya pencerahan…berusaha menyingkirkan dengan segala cara…
Kadang kita lupa semua ada masanya… dimana kita mesti memahami sakit sebagai buah dari yang kita tanam… mesti membaharui diri kedalam kesetiaan akan Cinta Kasih…
Sudahkah anda menabur pengharapan yang murni… disaat pencarianmu adalah pencarian orang lain juga ? Ingat kawan dinamika dan paradigma menjadi modal kamu untuk menyelami diri… untuk kamu bermimpi dan lihatlah kedua hal ini….
Celah-celah hembusan angin penyegaran dirampas oleh akal busukku…. membuka pintu kebuntuan …
Sakit itu lahir diantara tindakan pikirku…. ketika aku bertindak diluar batas akal sehatku ia mencoba mengingatkan bahwa begitu besar beban yang tak semestinya dipikul….
Sakit itu mengingatkan aku kembali ….bahwa segala sesuatu diluar batas akal sehatku…. diluar kesatuan dengan Tuhan….. diluar hukum kesimbangan adalah kemustahilan….
Kesadaran untuk berubah adalah obat baik bagi penyembuhan… mengakui kekuatan penciptaan adalah komitmen tak terbantah yang pernah ada dalam kehidupan…
Sakit adalah tanda kemunduran akal dan pikiran kita…. pengingat setia yang datang tak diundang hadir tak bisa ditolak…. Ia lahir diantara panggilan nurani dan fisik yang tak terbatas…
Hadir dan tinggal ditengah-tengah sakit itu adalah jalan terbaik yang dilakukan… Dengan perlahan dan pasti bersama kekuatan penciptaan, kita mencoba mengalihkannya untuk menjaga kemurnian diri … menjaga kebersihan pikiran… walau dalam tantangan yang berat bahwa itulah pencarian HIDUP sejati…
Kadang sakit melahirkan kebencian yang terdalam kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,…. Kita kadang menolak perubahan hanya untuk menutup ke egoisan diri…. lebih senang memendam keburukan…. kadang membunuh karakter diri sendiri, tak heran sakit bertubi menghampiri…. membuat kita lupa pada tujuan awal kehidupan….
Perjalanan itu semakin semu… ketika pilihan perubahan pada kebaikan terabaikan…
Dimanakah diri anda saat ini… apakah dipersimpangan atau diantara pencarian semu ? Jika kesakitan itu diperoleh… maka ialah bagian dari peta kehidupan. Bagaimana anda terhadap diri sendiri ? … demikian pula anda mengkondisikan orang lain…
Ketika aku sakit maka orang lain disekitarku juga sakit… hukum sebab akibat berlaku disini Manusia sebagai Citra Allah menunjukan keberadaannya terhadap sesama. maka haruskah aku menolak untuk membantu orang lain …. disaat mereka membutuhkan pertolongan ?.... Sementara aku mesti berperang melawan perasaan… dimana perasaan menjadi momok menakutkan yang terus menghantui akal sehatku… berperang melawan batin.
Pengabaian dan individualitas semata adalah tanda keremukan jiwa…saat pandangan pertama sesungguhnya tiada kelihatan…Akar pelopor gerakan menjadi tumpul semenjak penopang dan pecundang selalu mencari kambing hitam… menutupi kesakitan membusukan diri kedalam balutan pengingkaran…Ia selalu bisa mementingkan diri sendiri dan berusaha membunuh cahaya pencerahan…berusaha menyingkirkan dengan segala cara…
Kadang kita lupa semua ada masanya… dimana kita mesti memahami sakit sebagai buah dari yang kita tanam… mesti membaharui diri kedalam kesetiaan akan Cinta Kasih…
Sudahkah anda menabur pengharapan yang murni… disaat pencarianmu adalah pencarian orang lain juga ? Ingat kawan dinamika dan paradigma menjadi modal kamu untuk menyelami diri… untuk kamu bermimpi dan lihatlah kedua hal ini….
Jumat, 11 April 2008
Usaha Masyarakat Pada Kondisi Serba Sulit
Catatan Pulang Kampung
Tingginya harga kebutuhan Pokok akhir-akhir ini akibat resesi dunia dan kenaikan harga minyak bumi menyebabkan pengaruh pada perekonomian dunia. Tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia, dampak kenaikan harga secara global mempegaruhi ABPN. Yang sangat berimplikasi pada kenaikan ini adalah pada komoditi beras, minyak dan gas. kenaikan ini membuat lemahnya daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, minyak goreng maupun kebutuhan hidup lainnya bagai tak terkendali terus menanjak naik. Ibu-ibu banyak yang ngeluh karena sulit sekali membagi dan mengatur uang belanja. Mereka mesti mengevaluasi dan menghitung ulang arus kas keluarga untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan krisis ekonomi jilid II.
Selain harga sembako yang terus naik, kelangkaan minyak tanah dan gas terus menghantui masyarakat diseluruh Indonesia tak terkecuali di kalimantan Barat. Kenaikan sembako dan kelangkaan minyak tanah dan Gas semakin terasa terutama di perkotaan,. Sulitnya mendapatkan minyak tanah atau gas dikarenakan lambatnya pasokan yang disebabkan kondisi cuaca yang mengganggu pelayaran. Selain itu ada pihak tertentu yang disinyalir melakukan spekulasi sehingga terjadi kelangkaan.
Dampak kenaikan harga sembako dan kelangkaan minyak tanah dan gas di daerah tidaklah begitu terasa dan separah diperkotaan. Kecuali untuk bahan bangunan seperti seng, semen, kawat dll, kenaikannya memang agak terasa. dimana kenaikan harga bahan bangunan diatas 100 % dalam beberapa bulan ini.
Masyarakat di daerah sekarang ini masih menikmati hasil panen padi baik berladang maupun sawah. Selain itu mereka juga didaerah diuntungkan dengan naiknya harga komoditi pertanian seperti karet, sawit , coklat, lada maupun komoditas lainnya. Daya beli masyarakat cukup berimbang dengan meningkatnya harga komoditi tersebut, karena penghasilan mereka dari hasil kebun juga meningkat.
Bagi masyarakat didaerah perbatasan, kelangkaan minyak tanah dan gas tidak begitu terasa karena mereka mendapat pasokan gas dan kebutuhan hidup lainnya dari negeri Jiran dengan harga yang wajar pula.
Sedangkan masyarakat yang tinggal dikampung yang masih memiliki hutan dan kebun karet, mereka dapat menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dengan ketersediaan lahan seperti ini mereka masih dapat mengolah lahannya untuk berkebun sayur ataupun usaha lain yang dapat dijual untuk menambah penghasilan.
Berbeda dengan masyarakat yang berada di pemukiman perkebunan kelapa sawit seperti warga Trans di kampong kami, semua kebutuhan hidup serba dibeli. Pada kondisi sekarang Warga Trans mau tak mau harus antri membeli gas atau minyak tanah.
Untuk mengurangi biaya dan sulitnya mendapatkan minyak tanah serta gas elpiji, bagi yang kreatif masyarakat yang tinggal di perkebunan kelapa sawit menggunakan pelepah sawit untuk dijadikan kayu bakar dalam rangka penghematan.
Pada situasi ini masyarakat di daerah mau tak mau menerima kenyataan dan melakukan berbagai upaya usaha dan penghematan akibat kenaikan kebutuhan hidup yang mana mereka tak tahu penyebabnya dan sampai kapan berakhirnya.
Tingginya harga kebutuhan Pokok akhir-akhir ini akibat resesi dunia dan kenaikan harga minyak bumi menyebabkan pengaruh pada perekonomian dunia. Tak terkecuali negara berkembang seperti Indonesia, dampak kenaikan harga secara global mempegaruhi ABPN. Yang sangat berimplikasi pada kenaikan ini adalah pada komoditi beras, minyak dan gas. kenaikan ini membuat lemahnya daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok (sembako) seperti beras, minyak goreng maupun kebutuhan hidup lainnya bagai tak terkendali terus menanjak naik. Ibu-ibu banyak yang ngeluh karena sulit sekali membagi dan mengatur uang belanja. Mereka mesti mengevaluasi dan menghitung ulang arus kas keluarga untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan krisis ekonomi jilid II.
Selain harga sembako yang terus naik, kelangkaan minyak tanah dan gas terus menghantui masyarakat diseluruh Indonesia tak terkecuali di kalimantan Barat. Kenaikan sembako dan kelangkaan minyak tanah dan Gas semakin terasa terutama di perkotaan,. Sulitnya mendapatkan minyak tanah atau gas dikarenakan lambatnya pasokan yang disebabkan kondisi cuaca yang mengganggu pelayaran. Selain itu ada pihak tertentu yang disinyalir melakukan spekulasi sehingga terjadi kelangkaan.
Dampak kenaikan harga sembako dan kelangkaan minyak tanah dan gas di daerah tidaklah begitu terasa dan separah diperkotaan. Kecuali untuk bahan bangunan seperti seng, semen, kawat dll, kenaikannya memang agak terasa. dimana kenaikan harga bahan bangunan diatas 100 % dalam beberapa bulan ini.
Masyarakat di daerah sekarang ini masih menikmati hasil panen padi baik berladang maupun sawah. Selain itu mereka juga didaerah diuntungkan dengan naiknya harga komoditi pertanian seperti karet, sawit , coklat, lada maupun komoditas lainnya. Daya beli masyarakat cukup berimbang dengan meningkatnya harga komoditi tersebut, karena penghasilan mereka dari hasil kebun juga meningkat.
Bagi masyarakat didaerah perbatasan, kelangkaan minyak tanah dan gas tidak begitu terasa karena mereka mendapat pasokan gas dan kebutuhan hidup lainnya dari negeri Jiran dengan harga yang wajar pula.
Sedangkan masyarakat yang tinggal dikampung yang masih memiliki hutan dan kebun karet, mereka dapat menggunakan kayu bakar untuk memasak. Dengan ketersediaan lahan seperti ini mereka masih dapat mengolah lahannya untuk berkebun sayur ataupun usaha lain yang dapat dijual untuk menambah penghasilan.
Berbeda dengan masyarakat yang berada di pemukiman perkebunan kelapa sawit seperti warga Trans di kampong kami, semua kebutuhan hidup serba dibeli. Pada kondisi sekarang Warga Trans mau tak mau harus antri membeli gas atau minyak tanah.
Untuk mengurangi biaya dan sulitnya mendapatkan minyak tanah serta gas elpiji, bagi yang kreatif masyarakat yang tinggal di perkebunan kelapa sawit menggunakan pelepah sawit untuk dijadikan kayu bakar dalam rangka penghematan.
Pada situasi ini masyarakat di daerah mau tak mau menerima kenyataan dan melakukan berbagai upaya usaha dan penghematan akibat kenaikan kebutuhan hidup yang mana mereka tak tahu penyebabnya dan sampai kapan berakhirnya.
Kamis, 10 April 2008
Membangun Borneo Melalui Gerakan Credit Union
Gerakan Credit Union yang biasa di singkat atau disebut CU adalah gerakan masyarakat dibidang ekonomi untuk meningkatkan kesejahtaraannya. Orang-orang yang terhimpun didalamnya disebut anggota. Anggota yang terhimpun didalam CU mengembangkan sikap saling percaya untuk menghimpun modal secara bersama-sama dan dipinjamkan kembali kepada sesama anggota. Mengapa hanya kepada anggota ? karena sudah menjadi prinsip CU itu sendiri untuk membangun anggotanya bukan berarti mengabaikan orang yang bukan anggota.
Gerakan Credit Union atau CU di Kalimantan Barat mulai didengungkan sejak tahun 1970-an oleh pihak gereja Katolik dibawah PSE Keuskupan Agung Pontianak. Penumbuhan CU masa itu lebih diperuntukkan bagi lingkup umat Gereja disuatu Paroki saja. Hampir semua Paroki di Kalimantan Barat berdiri CU. Pengelolaannyapun waktu itu lebih banyak dari pihak gereja sendiri (bukan Imam) yakni melibatkan dewan Paroki maupun dari masyarakat awan gereja.
Setelah berjalan beberapa tahun gerakan ini mengalami keruntuhan. Ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan pengelola serta rendahnya pemahaman anggota soal CU itu sendiri. Selain rendahnya kesadaran anggota untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan hingga banyak macet, tapi banyak juga penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pengelola CU itu sendiri.
Satu persatu CU yang didirikan mengalami kehancuran karena salah urus. Sama seperti Koperasi-koperasi lainnya CU masa itu banyak yang tinggal plang nama saja dan tidak ada aktivitas didalamnya. Citra CU dimata Umat maupun masyarakat menjadi buruk karena dianggap membohongi anggotanya.
Bagi CU yang dikelola cukup baik masa itu dapat bertahan walau dalam keadaan tertekan. Mereka yang masih bertahan tentu memiliki komitmen yang baik dalam CU-nya. CU yang masih aktif masa itu menjadi penampung keluhan maupun makian dari anggota CU yang sudah bangkrut. Dengan keyakinan untuk terus membangun CU walau dengan jatuh bangun mereka tidak patah semangat ber-CU hingga saat ini .
Hancurnya CU yang dibangun pada tahap pertama, tidak mematahkan semangat orang-orang yang masih peduli terhadap gerakan ekonomi kerakyatan. Dengan kekuatan yang mereka miliki mereka mencari model baru dalam mengembangkan CU dibumi Kalimantan.
Bercermin pada kondisi social ekonomi masyarakat Dayak masa itu, begitu banyak persoalan yang dihadapi ditingkat mereka. Ternyata apa yang ada dalam gerakan CU bukanlah modelnya yang salah tapi lebih pada persoalan pengelolaan yang tidak dibekali dengan pengetahuan yang baik.
Maka Pancur kasih dengan Yayasan Karya Sosialnya saat itu membangun CU yang mana anggotanya adalah dari lingkungan Pancur kasih sendiri, setelah berkembang pesat kemudian anggotanya terbuka untuk orang-orang diluar Pancur Kasih. Paham akan konsep CU yang telah dibangun pada tahap pertama PK berkeyakinan bahwa model ini sangat cocok bagi masyarakat terutama masyarakat Dayak maupun masyarakat yang termarjinalkan. Model CU yang dikembangkan oleh PK berbeda dengan periode CU awal. Program pendidikan dan pelatihan, swadaya dan solidaritas menjadi pilar utama yang terus ditanamkan dalam ber-CU. Semakin berkembangnya CU dengan adanya model baru ini kepercayaan masyarakat mulai baik, trauma karena CU sudah mulai hilang dengan membaiknya pengelolaan CU yang berbasis kepada anggota.
Dipilihnya CU sebagai alat untuk membangun anggotanya di Kalimantan Barat tentu tidak terlepas dari factor sosial budaya terutama masyarakat Dayak . Konsep CU dalam masyarakat Dayak sebenarnya sudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari secara turun temurun. Dan gerakan CU lebih mudah diterima dengan baik pada Masyarakat Dayak karena menghidupkan kembali nilai-nilai sosial budaya, gotong royong atau Pangari dan kearifan-kearifan local yang memang tidak pernah tertuliskan dalam sebuah buku seperti budaya suku lainnya.
Salah satu contoh konkrit yang tampak adalah membangun /membuat TEMBAWANG pada orang Dayak, itu sama dengan nilai menabung dalam CU. Dalam Tembawang terdapat tanam tumbuh seperti tanaman buah-buahan, serta tanaman obat, kawasan meramu bahan untuk rumah yang diambil seperlunya dan dimiliki secara kolektif. Tembawang ini dinikmati sampai pada anak cucu dan dipelihara dengan baik.
Kini banyak masyarakat yang bergabung dalam CU dengan latar belakang suku, agama dan status social yang berbeda pula. Dampak gerakan CU adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menanamkan sikap hemat, tolong menolong, memiliki perencanaan keuangan yang baik, CU dengan beragam latar belakang menjadi wadah rekonsilisasi bagi masyarakat kalimantan barat. Dalam CU anggota ditanamkan nilai-nilai untuk menolong diri sendiri, solidaritas dan peduli terhadap lingkungan. Ini sesuai dengan apa yang tanamkan oleh Reffiesen Bapak Credit Union Dunia bahwa si Miskin hanya dapat ditolong dengan menghimpun apa yang ada pada dirinya dan dipinjamkan kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongkan .
Gerakan Credit Union atau CU di Kalimantan Barat mulai didengungkan sejak tahun 1970-an oleh pihak gereja Katolik dibawah PSE Keuskupan Agung Pontianak. Penumbuhan CU masa itu lebih diperuntukkan bagi lingkup umat Gereja disuatu Paroki saja. Hampir semua Paroki di Kalimantan Barat berdiri CU. Pengelolaannyapun waktu itu lebih banyak dari pihak gereja sendiri (bukan Imam) yakni melibatkan dewan Paroki maupun dari masyarakat awan gereja.
Setelah berjalan beberapa tahun gerakan ini mengalami keruntuhan. Ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan pengelola serta rendahnya pemahaman anggota soal CU itu sendiri. Selain rendahnya kesadaran anggota untuk mengembalikan pinjaman yang diberikan hingga banyak macet, tapi banyak juga penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh pengelola CU itu sendiri.
Satu persatu CU yang didirikan mengalami kehancuran karena salah urus. Sama seperti Koperasi-koperasi lainnya CU masa itu banyak yang tinggal plang nama saja dan tidak ada aktivitas didalamnya. Citra CU dimata Umat maupun masyarakat menjadi buruk karena dianggap membohongi anggotanya.
Bagi CU yang dikelola cukup baik masa itu dapat bertahan walau dalam keadaan tertekan. Mereka yang masih bertahan tentu memiliki komitmen yang baik dalam CU-nya. CU yang masih aktif masa itu menjadi penampung keluhan maupun makian dari anggota CU yang sudah bangkrut. Dengan keyakinan untuk terus membangun CU walau dengan jatuh bangun mereka tidak patah semangat ber-CU hingga saat ini .
Hancurnya CU yang dibangun pada tahap pertama, tidak mematahkan semangat orang-orang yang masih peduli terhadap gerakan ekonomi kerakyatan. Dengan kekuatan yang mereka miliki mereka mencari model baru dalam mengembangkan CU dibumi Kalimantan.
Bercermin pada kondisi social ekonomi masyarakat Dayak masa itu, begitu banyak persoalan yang dihadapi ditingkat mereka. Ternyata apa yang ada dalam gerakan CU bukanlah modelnya yang salah tapi lebih pada persoalan pengelolaan yang tidak dibekali dengan pengetahuan yang baik.
Maka Pancur kasih dengan Yayasan Karya Sosialnya saat itu membangun CU yang mana anggotanya adalah dari lingkungan Pancur kasih sendiri, setelah berkembang pesat kemudian anggotanya terbuka untuk orang-orang diluar Pancur Kasih. Paham akan konsep CU yang telah dibangun pada tahap pertama PK berkeyakinan bahwa model ini sangat cocok bagi masyarakat terutama masyarakat Dayak maupun masyarakat yang termarjinalkan. Model CU yang dikembangkan oleh PK berbeda dengan periode CU awal. Program pendidikan dan pelatihan, swadaya dan solidaritas menjadi pilar utama yang terus ditanamkan dalam ber-CU. Semakin berkembangnya CU dengan adanya model baru ini kepercayaan masyarakat mulai baik, trauma karena CU sudah mulai hilang dengan membaiknya pengelolaan CU yang berbasis kepada anggota.
Dipilihnya CU sebagai alat untuk membangun anggotanya di Kalimantan Barat tentu tidak terlepas dari factor sosial budaya terutama masyarakat Dayak . Konsep CU dalam masyarakat Dayak sebenarnya sudah dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari secara turun temurun. Dan gerakan CU lebih mudah diterima dengan baik pada Masyarakat Dayak karena menghidupkan kembali nilai-nilai sosial budaya, gotong royong atau Pangari dan kearifan-kearifan local yang memang tidak pernah tertuliskan dalam sebuah buku seperti budaya suku lainnya.
Salah satu contoh konkrit yang tampak adalah membangun /membuat TEMBAWANG pada orang Dayak, itu sama dengan nilai menabung dalam CU. Dalam Tembawang terdapat tanam tumbuh seperti tanaman buah-buahan, serta tanaman obat, kawasan meramu bahan untuk rumah yang diambil seperlunya dan dimiliki secara kolektif. Tembawang ini dinikmati sampai pada anak cucu dan dipelihara dengan baik.
Kini banyak masyarakat yang bergabung dalam CU dengan latar belakang suku, agama dan status social yang berbeda pula. Dampak gerakan CU adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menanamkan sikap hemat, tolong menolong, memiliki perencanaan keuangan yang baik, CU dengan beragam latar belakang menjadi wadah rekonsilisasi bagi masyarakat kalimantan barat. Dalam CU anggota ditanamkan nilai-nilai untuk menolong diri sendiri, solidaritas dan peduli terhadap lingkungan. Ini sesuai dengan apa yang tanamkan oleh Reffiesen Bapak Credit Union Dunia bahwa si Miskin hanya dapat ditolong dengan menghimpun apa yang ada pada dirinya dan dipinjamkan kepada sesamanya yang membutuhkan pertolongkan .
Berkembangnya CU tentu perlu didukung pula dengan kualitas pelayanan yang baik kepada anggotanya. Produk -produk CU mesti menjawab kebutuhan anggotanya sehingga semakin mendekatkan CU dalam setiap langkah anggota. Anggota memiliki pengetahuan yang baik soal CU, dengan demikian mereka paham akan hak dan kewajibannya sebagai anggota.
Membaiknya kondisi ekonomi anggota CU maka akan berpengaruh pada daya beli dipasar. terutama untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan primer dan kebutuhan hidup lainnya. Setiap keluarga CU dapat merancang keuangannya sendiri, dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai pada tingkat yang lebih tinggi, kewajibannya sebagai warga negara juga akan tampak dengan turut membantu pemerintah terutama dalam peningkatan pajak. Dengan membeli produk seperti barang Sembako dan kendaraan maka dapat meningkatkan pajak dan digunakan kembali untuk membangun infrastruktur. Saat ini ada sekitar 5% dari total penduduk Kalbar yang masuk menjadi anggota CU, dan pada umumnya berada didaerah pedalaman. Sementara masih banyak orang yang belum paham CU ini adalah peluang bagi setiap orang untuk bergabung dan mencoba memperbaiki kehidupannya melalui CU.
Langganan:
Postingan (Atom)